Kalau bumi hilang kendali, lantas siapa yang disalahkan?

Ditulis oleh KA

Selama beberapa bulan terakhir, langit sudah tak lagi menampakkan warna asli.
Selama beberapa bulan terakhir, seolah hanya asap tebal yang mau mengunjungi bumi.

Ketika bangun di pukul lima pagi, satu kalimat yang mengiringi, “Kapan hamburan putih ini menjadi embun pagi?”

Mungkin indra penciuman sudah rindu dengan udara asri, sebab sekarang tersisa sesak yang menyelimuti sekujur tubuh ini.

Manusia masih bisa melontarkan rasa sakit dan emosi, tapi bagaimana dengan makhluk Tuhan yang tinggal di ujung rimba? Tak bisa membaca berita di sosial media, tiba-tiba rumah sudah dijilat kobaran api.

Nyawa sang relawan pun menjadi taruhan, padahal sanak saudara menunggu dengan perasaan gundah yang membuncah. Pulang dengan iringan nestapa, bukan sebab tak ada daya, justru mata tak sanggup menahan pilunya.

Bila sudah ada titik perjuangan, bukanlah pertanda tuk diam, melainkan alasan untuk terus melawan. Sebab ketika suara tak lagi didengar, ratusan juta pun bagai tak bernilai.

Tanda tanya yang hinggap di kepala, ke mana pilar-pilar yang semestinya menjadi penopang itu pergi? Mengapa tanah dibiarkan berjuang sendiri tanpa hara dan sinar matahari?

Apakah harus menunggu menerpa singgasana agar sang raja mau menggerakkan kakinya?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *