Physical Address
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga
Surabaya
Physical Address
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga
Surabaya

By Amabel
Kicauan burung terdengar kala seorang gadis berusia 17 tahun itu membuka mata, melangkahkan jemari untuk mematikan nyala lampu yang sudah menjadi rutinitas. Surai rambut berantakan menutupi wajah manisnya, ciri khas seseorang yang baru bangun dari tidurnya. Hellen Felicia, perempuan ceria itulah orangnya. Nama yang indah, sepadan dengan indah lakunya. Ia bermukim di salah satu perumahan di Kota Bandung bersama orang tuanya, sementara kakak laki-lakinya tengah menempuh pendidikan di luar kota. Oh, jangan lupakan Cio, si kucing kecil yang gemar menggigit untaian selimut tidur itu. Gadis berkulit sawo matang dengan senyum yang tak pernah pudar, riang, dan harapan yang senantiasa terpancar dari mata bulatnya. Deskripsi tentang Hellen tak pernah salah, sampai tiba di mana hari besar membawa angin ribut dengan jarum berterbangan.
Hellen menggali ilmu di kelas dua SMA, sekarang ia sudah rapi dengan setelan abu putihnya. Saat jarum jam menunjukkan di angka 06.30, ia bergegas menuruni anak tangga menuju meja makan untuk memakan sesuap nasi sebelum berangkat ke sekolah. Deru sepatu terdengar jelas karena keheningan yang tercipta. Lumrah bagi Hellen menyaksikan rumah bagai tiada penghuni, mungkin hanya terdengar ocehan Cio yang heboh meminta santapan untuk mengganjal perutnya. Padahal matahari baru saja menampilkan cahaya hangat, namun netra kedua orangtuanya tak dapat ditemukan sebab sudah berangkat mencari pundi-pundi penghasilan. Akhir-akhir ini, pulang larut malam menjadi kebiasaan baru dari pasangan yang sudah menginjak kepala lima itu, bahkan mengetuk pintu saat Hellen sudah tak mampu mehanan kantuk.
Anak ragil ini menempuh perjalanan ke sekolah menaiki kendaraan mesin beroda dua, dengan perkiraan 10 menit waktu tempuhnya. SMAN 7 Bakti, terbesit nama dari tempat pendidikan yang menggait banyak siswa-siswi berprestasi di berbagai bidang, di mana Hellen adalah salah satunya. Terkenal sebagai sosok yang mencintai sastra, gemar menjahit narasi, hingga melantunkan nada-nada dari hasil ilusi. Ia pelan kendalikan laju motor karena jantungnya yang bergerak lebih cepat, rasa excited dan grogi tercampur dalam benaknya. Bagaimana tidak? Ia akan menunjukkan lagu yang telah disiapkan sejak sebulan lalu pada kompetisi besar yang telah didambanya, Music Festival Award yang diadakan oleh pemerintah di sekolah kebanggaannya. Jadi, tak heran bila perasaan campur aduk tercium dari tubuhnya.
Kini ia tergesa memarkirkan motor dan berjalan cepat karena niat hati untuk segera menemui sobat karibnya di kelas. “Pyar” nyaring terdengar di gendang telinga siapapun yang mendengar, mirip pecahan benda keras yang membuat Hellen terkejut bukan main ketika baru menapakkan langkahnya di depan pintu kelas. Nampak pemandangan laki-laki dan perempuan sedang beradu mulut di dalam ruang, diiringi para insan yang berusaha melerai tapi tak ada hasilnya.
“Gak bisa kah kalian berhenti? Ini masih pagi lho. Apalagi sampai mecahin vas, cukup hey.” Lerai seseorang yang bertitle ketua kelas itu.
“Dia yang mulai, harusnya gausah ikut campur urusan orang lain, apalagi tentang mimpi gue, lo bukan siapa-siapa.” Lelaki berambut ikal itu membuka suara sambil menunjuk sang lawan bicara.
“Sadar ya, di sini gue cuma ngasih tau kalau jadi petani mah gak bakal kaya. Emang lo mau miskin terus gitu?” Sanggah yang satu dengan nada mengejek.
Sebelum kembali membuka mulut terdengar suara lain yang lantang berbicara.
“Lo juga gak bisa maksain mimpi orang lain, lebih baik pikirin tentang diri sendiri.”
Kalimat itu menjadikan dua pasang netra mata melirik Hellen, ya, memang dia yang tengah berbicara sebab tak mampu menahan diam setelah menangkap apa yang baru saja masuk di telinga kanannya. Ia tak suka dengan sikap seseorang yang sudah melewati batas dalam mengikut campuri urusan orang lain, apalagi mengejek dengan embel-embel beropini.
“Dih baru datang udah nyamber kek petir aja lu. Gausah sok ikut-ikutan lo, dasar bocah sok. Lo padahal cuma si dekil gak ada guna. Palingan cuma bisa nyanyi dengan fals atau bikin puisi nggak jelas.” Masih satu wanita sama yang akrab dipanggil Icha itu.
“Gausah bawa-bawa Hellen. Di sini cuma antara gue sama lo.” Bela lelaki tadi tak mau kalah.
“Oh, jadi ceritanya saling ngebela nih, pantes deh sama-sama gak guna.”
“Jaga mulutmu.” Hellen kembali membuka suara.
“Nah. Emng yang gue omongin bener kan? Coba liat diri lo, udah banyak berjemur dimana kok makin gelap haha. Mana pendek banget sepundak gue, keluarga lo juga cuma tinggal di perumahan kecil, nggak cocok banget ada di sekolah ini. Udah miskin, jelek, hidup lagi.” Pedas mulut Icha berkata.
“Emm, mana katanya mau sok ikutan festival musik, ngapain hah? Lo ngga akan bisa menang. Lihat aja, gue yang cantik begini nih yang pasti bakal menang.” Tambahnya sambil menunjukkan raut muka angkuh dengan tawanya yang menggelegar.
Bibir mungil Hellen kelu untuk berucap, nyatanya hanya genangan air mata yang masih di pelupuk itu yang jadi tanggapan. Kepalanya hampir pecah mencerna semua kata demi kata yang keluar dari wanita seusianya itu. Bahkan, semua teman sekelasnya hanya saling melempar pandang. Semua orang kaku, terkejut karena tak terbayang akan menyaksikan kejadian persis seperti adegan di televisi. Sementara Icha masih terus tertawa seakan tak memikirkan ada hati yang tergores akibat apa yang telah diucapnya. Keterlaluan, namun nyatanya banyak manusia berperilaku seenak jidat, dimana Icha menjadi contoh nyatanya.
Tak ingin menambah goresan di hatinya, Hellen memilih menepi dan menuju ke bangku pojok yang jadi singgasananya. Meninggalkan pandangan mata yang menatapnya jijik sedari tadi. Termenung memikirkan apakah ia harus mengikuti festival atau berlari menggapai kamar nyamannya untuk menumpahkan segala yang ia rasakan. Hingga tepukan pelan dari seseorang bertubuh tinggi dengan paras tampan itu ia rasakan.
“Hai Hell. You okay?”
“Eh Gama. Iya, aku baik.” Jawab Hellen sedikit terkejut menerima tepukan di atas lamunannya, ternyata itu Gama, sahabat karib yang menjadi niat awal ia mengunjungi kelas tadi.
“Gue tadi uring-uringan di halaman sekolah sama di sekitar aula buat nyari lo karena gue pikir lo nggak akan ke kelas. Sorry karena gue nggak ada di samping lo buat ngebela, bahkan bodohnya baru tau dari mulutnya Raka tadi. Hell, bilang apa yang lo rasain, nangis kalau emang lo mau,”
“Dan.. you can hug me.” Tambah Gama sedikit ragu.
Seolah ada dorongan dari balik punggungnya, Hellen memeluk sang sahabat, tangisnya seketika pecah saat itu juga. Lama ia menahan, nyatanya tak sanggup lagi tuk dibendung. Kupu-kupu yang masuk dari celah ventilasi menjadi saksi gadis ceria kini menitikkan air mata dengan pedih. Tangan Gama mulai terangkat mengusap lembut surai rambutnya, memastikan pelukan hangatnya dapat sedikit menenangkan.
“Gama, apa gue sejelek itu dipandang? Apa gue nggak layak buat ikut festival musik?” Tanyanya di sela-sela tangisnya yang belum juga mereda.
“Dengerin gue baik-baik, Hell. Lo punya semua mimpi yang layak lo kejar. Jadiin festival sebagai pembuktian tentang sekeren apa lagu yang udah lo buat. Kalau tentang cantik, cantik itu universal. Lo cantik di mata orang yang tepat, tapi lo baik di mata semua orang yang memandang. Karena hati lo yang selalu tenang, selalu ngebantu semua orang tanpa mikir panjang, bahkan sampai ngelindungi atas dasar bullying meskipun akhirnya lo harus ikut ngerasa sakit. Itu semua jauh dan jauh lebih berharga, Hell.” Tutur Gama panjang lebar.
“Itu yang buat gue jatuh hati sama lo.” Tambahnya dalam hati, memang tabiat anak muda yang selalu lebih mendahulukan gengsi.
Hellen mulai melepas pelukannya, nampaknya hati dan pikirannya sudah mulai tenang. Senyumannya perlahan terukir kembali, menatap Gama sebegitu dalam, dan kembali berujar.
“Thank you, Gama. Gue harus lanjut, lo bakal nemenin gue kan?”
“Pasti, Hell.”
Keduanya saling mengenal sejak masih mengeja huruf, wajar tak melepas kaitan tangan kala salah satunya tengah rapuh. Tetap membisikkan kalimat penyemangat untuk sang sahabat, harapnya pikiran buruk dapat berlari pergi. Berjalan bersama di bawah terik sinar mentari menuju aula sekolah, diiringi riuh orang berlalu lalang yang siap beradu melodi di music festival award yang banyak dinanti.
Di kursi depan, terpampang wanita manis bernomor dada 27 itu tengah mengambil tarikan nafas hingga suara parau memecah kebisingan dalam pikirnya.
“Gimana hell, udah siap? Sekarang sampai nomor 22 tuh.”
“Siap dong, gue cuma masih kepikiran dikit, dikit doang kok serius. Segini.” Ucapnya sambil memperagakan dengan tangan kanannya.
“Lucu banget sih lo. Gausah dipikir lah hell, mending lo ngebayangin gue aja, ya kan?” Goda Gama di sela-sela perbincangan mereka.
“Dih ogah.”
“Haha, iya bercanda. By the way nggak lupa buat ngabarin bunda sama ayah lo kan?”
“Dari seminggu lalu sih gue bilang, tapi nggak berharap banyak daripada endingnya bikin nyesek. Palingan juga sibuk.”
“Hush gaboleh bicara gitu. Siapa tau mereka inget. Meskipun telat sekalipun, gue yakin orang tua lo pasti datang.”
“Udah lah, mending temenin ke backstage sekarang keburu gue nyanyi.”
Tangan mungil itu menarik yang lebih dewasa, membawa langkah kaki keduanya berpijak tepat di belakang tirai putih. Mengepalkan tangan sembari menggumamkan kata semangat, sang sahabat mulai menaiki anak tangga yang tingginya tak seberapa dengan diiringi kesunyian dan tatapan penonton yang tertuju kepada Hellen sebagai center, seakan mempersilahkan Ia bebas menunjukkan apa yang telah ia canangkan. Dengan lembut musik mulai menggema, di gedung aula lantunan lirik-lirik indah menyatu dengan merdu suaranya. Seluruh mata memandang, bahkan semut enggan untuk berpaling dari tempatnya. Terpaku dengan makna lirik yang menusuk hingga ke ulu hati.
Tiga menit berlalu, suara piano terkesan makin memelan, menandakan penghujung dari lantunan syair yang dinyanyikan.
“Andaikan dunia bisa dipegang, aku akan berhenti menangis di sepanjang malam. Kasih dan cinta yang kugenggam, tak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan.”
Sebait lirik yang benar-benar menyelesaikan alunan suara merdu yang berkumandang.
Ruangan dipenuhi dengan tepukan bergemuruh dari para insan yang mendengar disertai ribuan air mata yang lolos dari sarang. Hellen tak menyangka ia mampu berdiri tegak di atas kakinya, apalagi menerima sanjungan dari gerombolan makhluk ciptaan Tuhan. Hingga pelipisnya menoleh, ia melirik pada dua orang paruh baya yang menatapnya dengan bangga, bahkan senyum merekah yang indah meski bekas tangisan tercetak jelas di sana. Tak ingin lama bertanya-tanya, Hellen memutuskan untuk turun dan berlari menghamburkan pelukan kepada orang yang tak disangkanya akan turut hadir, benar, itu adalah ayah dan ibundanya.
“Ayah, Bunda. Ternyata kalian datang. I’m so happy, really.”
“Iya nak, pasti. Maaf kalau akhir-akhir ini sibuk dan terkesan jarang memberimu kabar. Anak ayah hebat. Pandai sekali menulis lirik-lirik indah bahkan melantunkan dengan suara yang tak kalah indah.” Ucap lelaki berusia sekitar 50an itu tanpa melepas tatapan bangga pada putrinya.
“Bunda sama Ayah bangga sekali sama Hellen. Bunda harus langsung pergi dari pagi setiap usai memasak dan nggak sempat menemani kamu sarapan pagi. Bahkan ngga bisa menemanimu berlatih untuk acara hari ini. Maaf ya, sayang.” Tambah sang Bunda sambil mengecup singkat kepala Hellen.
“It’s okay, Hellen aja ngga nyangka ayah sama bunda bakal datang, jadi aku senang banget ternyata bisa datang dan ngelihat aku nyanyi. Aku bersyukur banget sama Tuhan akan itu.”
“KAN BENER HELL, APA GUE BILANG.” Seru Gama yang tiba-tiba sudah berdiri tegak di samping Hellen bak setan, jadi wajar jika tubuh di sampingnya terlonjak kaget.
“Ih ngagetin tau ngga.” Tak mau kalah, Hellen balas kagetnya dengan menggetok kepala Gama pelan.
Begitulah jajaran kursi itu penuh oleh candaan yang menguar dari bilah bibir Gama maupun Hellen, juga tawa dari kedua orang tuanya.
Terdengar kontestan terakhir menghetikan nada panjangnya, artinya tiba dimana pengumuman juara akan segera dibacakan oleh seorang presenter muda yang tampak sangat cakap dalam berbicara.
“Baiklah semua, beri tepuk tangan yang meriah dulu untuk seluruh peserta yang telah menunjukkan bakatnya. Jadi, kali ini saya bakal membacakan keputusan juri yang udah menentukan juara dari Festival Music Award tahun 2022 se-Jawa barat yang tahun ini diadakan di kota Bandung, tepatnya di SMA 7 Bakti. Penasaran nggak nih siapa yang bakal jadi top 3 diva muda kita?”
Di sana nampak para remaja sedang meremas lengan baju, menggigit bibir, menutup telinga, hingga memukul ringan teman di sampingnya. Menandakan perasaan gugup ketika menanti hasil akhirnya.
“Dimohon untuk yang nomor dadanya saya sebutkan langsung aja gas naik ke panggung ya. Keliatan banget pada deg-degan cie. Langsung aja kalau gitu mah.”
Tanpa basa-basi berlanjut, sang presenter kembali membuka bibirnya, “Top 3 diva kota Bandung pada Music Festival Award tahun 2022 kali ini adalah nomor dada 51, 76, dan yang terakhir adalah..”
“27!”
Sorak tepuk tangan menonton seolah membisukan ruangan. Dalam hitungan detik, angka dada yang familiar itu dipegang dan diciumnya singkat. Sorot mata Hellen menampilkan betapa bahagianya dia.
“Yah, Bun aku menang. Gama, i did it. Gak nyangka, ini serius 27 kan? Aku gak salah denger?”
“Iya, bego. Gue bangga banget aslian. Buruan naik ke sana.” Ucap Gama gemas.
“Iya sayang, cepat naik. Buktikan pada semua orang bahwa ini adalah awalmu tuk menggapai mimpi.” Itu ayahnya yang berkata.
Sementara sang bunda terdiam, meneteskan air mata yang tak kunjung usai seperti halnya gerimis di bulan Januari. Melangkah pelan tapi pasti, Hellen naik ke atas panggung dengan mengangkat trophy di atas kepalanya dengan tinggi. Ia tunjukkan pada dunia bahwa ia layak berdiri di sana. Kobaran semangat dalam jiwanya semakin membabi buta sedangkan rasa takutnya perlahan terkikis sirna.
Di bagian lain bumi, terlihat wanita ponggah keluar dari aula dengan muka masam tak terima, siapa lagi kalau bukan Icha. Wow, bahkan Hellen juga berhasil membuktikan kelayakannya tepat di depan orang yang telah mencacinya.
Berkeliling ke sudut-sudut acara, hingga stand pedagang es krim menggoda indra penciuman Hellen. Tak pikir panjang ia memutuskan menggeret tangan sahabatnya untuk singgah.
“Cape juga hari ini. Tapi gue lega banget. Lo pasti bangga temenan sama gue, ya kan? Haha.” Nyatanya sifat ceriwisnya juga sudah kembali.
“Iya Hell suka-suka lu dah. Mending sekarang balik, orang tua lo pasti udah nunggu di rumah.”
“Iya ih bener, harusnya gue kan ikut bareng aja buat pulangnya.”
“Dih, terus motor lo harus jalan sendiri gitu?”
“Aturannya kan lo yang bawain, pagi tadi aja sok manis ya harusnya sih sekarang gak nolak wle.”
“Nggak usah kurang ajar ya Hell, sini deketan.” Geram Gama memilih menggelitik pinggang ramping gadis yang lebih pendek dibandingnya itu.
“Bercanda ih aduh geli, stop woy geli.”
“Makanya nggak usah mancing haha. Dah ayo buruan. Langit mau gelap ini.”
“Iya, bawel. Itu jangan lupa bawain sedikit jajan gue, ya!” Teriak Hellen sambil berlari ke arah parkiran dimana motornya bertengger. Ia meninggalkan Gama dengan jajanan yang katanya sedikit, namun nyatanya penuh di genggaman kedua tangan lelaki jangkung itu.
Rasa lelah bercampur haru sangat menggambarkan diri Hellen. Sulit mendeskripsikan hari ini, mungkin pagi tadi memang senyumnya tertelan bumi, tapi terbalas dengan apa yang didapatkan setelahnya. Ia berhasil memberi jalan pembuka untuk masa depannya, memberi bangga kepada keluarganya, dan tak segan membungkam mulut jahat yang telah meragukannya. Lega, karyanya sudah bisa dipublikasikan kemana-mana tanpa rasa ragu, semoga saja Tuhan menambah kepastian itu.
Berharap mimpi-mimpinya bukan hanya tersimpan menjadi bunga tidur, melainkan mampu terwujud satu demi satu. Dengan para burung yang terbang bebas di hamparan langit senja yang menjadi saksi setiap perjalanan hidupnya.