AI Bisa Menulis, Siapa Yang Menjaga Kebenaran?

Oleh : Syauqi Arsya Al-Hakim

SURABAYA, 16 September 2026 – Kecerdasan buatan (AI) semakin membuka
peluang bagi ruang redaksi untuk mengolah informasi dengan cepat. Namun, ketika
teknologi ikut menyusun berita, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang memastikan
informasi tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan? Di tengah tuntutan
kecepatan media digital, tantangan jurnalistik bukan sekadar menghasilkan berita,
melainkan menjaga agar kecepatan tidak mengorbankan akurasi.

AI dapat membantu pekerjaan jurnalistik, mulai dari transkripsi wawancara,
penerjemahan, peringkasan dokumen, hingga pengolahan data. Teknologi ini
memungkinkan jurnalis menghemat waktu dalam pekerjaan teknis dan memberi ruang
lebih besar untuk peliputan serta pemeriksaan informasi. Meski demikian, kemampuan
menghasilkan teks tidak otomatis menjadikan AI mampu memastikan kebenaran sebuah
berita.

Pemanfaatan AI dalam industri berita bukan lagi sekadar wacana. Reuters Institute
melalui Digital News Report 2024 mencatat bahwa organisasi berita mulai
mengeksplorasi penggunaan AI, baik untuk pekerjaan di balik layar maupun untuk
menghasilkan dan menyajikan konten kepada publik. Penggunaan tersebut mencakup
transkripsi, penerjemahan, peringkasan materi, hingga eksperimen dengan pembaca
berita sintetis.

Perbedaan fungsi itu penting. AI yang membantu mentranskripsikan wawancara
memiliki risiko berbeda dari AI yang menyusun berita secara otomatis. Kesalahan
transkripsi masih dapat ditemukan ketika jurnalis memeriksa rekaman asli. Sebaliknya,
jika draf berita langsung diterbitkan tanpa pemeriksaan, informasi keliru dapat
menjangkau pembaca sebelum sempat dikoreksi.

Karena itu, penerapan AI tidak seharusnya dipahami sebagai satu proses yang
seragam. Setiap redaksi perlu mempertimbangkan tujuan penggunaan, jenis informasi
yang diolah, serta sejauh mana manusia terlibat dalam proses produksi dan penyuntingan.
Teknologi dapat membantu pekerjaan, tetapi keputusan editorial tetap membutuhkan
penilaian manusia.

Salah satu tantangan AI generatif adalah kemampuannya menghasilkan informasi
yang terdengar meyakinkan, tetapi tidak sesuai dengan fakta. Dalam jurnalistik,
kekeliruan semacam ini dapat menyangkut nama, tanggal, kutipan, angka, atau hubungan
sebab-akibat dalam suatu peristiwa.

Masalahnya bukan hanya apakah kalimat yang dihasilkan terlihat masuk akal.
Berita harus dapat ditelusuri kembali kepada sumber yang jelas. Jika jurnalis menerima
keluaran AI tanpa memeriksa dokumen atau menghubungi narasumber, kesalahan yang
dihasilkan sistem dapat masuk ke dalam produk jurnalistik dan tersebar kepada publik.

Risiko lain berkaitan dengan kerahasiaan sumber dan keamanan data. Catatan
wawancara, dokumen internal, atau informasi sensitif tidak semestinya dimasukkan ke
layanan AI tanpa mempertimbangkan kebijakan penggunaan dan perlindungan datanya.
Redaksi perlu memahami bagaimana informasi diproses, siapa yang dapat mengaksesnya,
serta risiko yang mungkin muncul.

Otomatisasi juga menimbulkan pertanyaan mengenai perubahan pekerjaan di
ruang redaksi. AI dapat mengambil alih sebagian tugas rutin, tetapi dampaknya terhadap
tenaga kerja tidak dapat disimpulkan hanya dari keberadaan teknologi. Perubahan
pekerjaan juga dipengaruhi kondisi ekonomi media, kebijakan perusahaan, dan
kebutuhan organisasi. Oleh sebab itu, klaim bahwa AI menjadi penyebab langsung
pengurangan pekerja harus didukung bukti yang spesifik.

Di sisi lain, AI dapat membantu jurnalis menelusuri dokumen dalam jumlah besar,
mengelompokkan data, menerjemahkan materi, dan menemukan pola awal yang layak
diperiksa lebih lanjut. Pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu panjang dapat
menjadi lebih terstruktur ketika teknologi digunakan dengan tepat.

Namun, hasil pengolahan tersebut tetap membutuhkan pemeriksaan. Pola yang
ditemukan AI belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat, sedangkan ringkasan
dokumen dapat menghilangkan konteks penting. Jurnalis tetap perlu kembali kepada
sumber asli, membandingkan informasi, dan meminta konfirmasi kepada pihak terkait.

Peran manusia juga tidak berhenti pada penyuntingan bahasa. Jurnalis dan editor
harus menentukan informasi yang relevan bagi publik, siapa yang perlu dimintai
tanggapan, serta bagaimana suatu peristiwa diberitakan secara adil. Keputusan tersebut
membutuhkan pertimbangan konteks dan kepentingan publik, bukan sekadar kemampuan
menyusun kalimat.

Dengan demikian, penggunaan AI seharusnya dinilai bukan hanya dari seberapa
cepat berita dihasilkan, melainkan juga dari bagaimana proses verifikasi dilakukan dan
siapa yang bertanggung jawab atas hasil akhirnya.

Tantangan kepercayaan publik terhadap berita berbantuan AI terlihat dalam
penelitian lintas negara. Digital News Report 2024 dari Reuters Institute menemukan
bahwa responden cenderung lebih nyaman ketika AI membantu jurnalis manusia,
misalnya dalam transkripsi atau peringkasan bahan riset, dibandingkan ketika berita
dibuat terutama oleh AI dengan pengawasan manusia yang terbatas.

Dalam laporan tersebut, 52 persen responden Amerika Serikat dan 63 persen
responden Inggris menyatakan tidak nyaman dengan berita yang sebagian besar
diproduksi AI. Angka ini menunjukkan sikap responden di kedua negara tersebut, bukan
gambaran langsung masyarakat Indonesia.

Perbedaan konteks perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan. Sikap
audiens dapat dipengaruhi pengalaman menggunakan teknologi, kepercayaan terhadap
media, dan jenis berita yang dikonsumsi. Temuan lintas negara tersebut lebih tepat
digunakan sebagai pengingat bahwa penerimaan publik terhadap AI tidak dapat
diasumsikan seragam.

Kepercayaan juga berkaitan dengan transparansi. Pembaca perlu memperoleh
penjelasan yang wajar ketika AI berperan secara berarti dalam pembuatan atau penyajian
berita. Keterbukaan bukan sekadar mencantumkan label, melainkan memastikan bahwa
informasi tentang penggunaan teknologi sesuai dengan proses yang benar-benar
dilakukan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan media adalah mengembangkan program
percontohan “Ruang Redaksi AI Bertanggung Jawab”. Program ini dapat dimulai dengan
menetapkan pekerjaan yang boleh dibantu AI, jenis data yang tidak boleh dimasukkan ke
sistem, serta tahapan pemeriksaan yang wajib dilakukan sebelum berita diterbitkan.

Redaksi juga perlu menetapkan penanggung jawab pada setiap tahap penggunaan
teknologi. Jurnalis memeriksa sumber dan fakta, editor menilai kelayakan serta konteks
pemberitaan, sedangkan pihak yang memahami teknologi membantu mengevaluasi risiko
dan keamanan sistem. Pembagian tugas tersebut dapat disesuaikan dengan kemampuan
dan sumber daya masing-masing media.

Evaluasi program tidak cukup hanya menghitung jumlah berita yang selesai
dibuat. Redaksi dapat mengukur waktu produksi, jumlah kesalahan faktual yang
ditemukan, frekuensi koreksi setelah publikasi, kepatuhan terhadap prosedur verifikasi,
serta pemahaman pembaca mengenai keterlibatan AI. Hasil pengukuran dapat membantu
media menilai apakah penggunaan teknologi memperbaiki proses kerja tanpa mengurangi
ketelitian.

Pada akhirnya, AI dapat membantu mempercepat pekerjaan jurnalistik, tetapi
kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan berita. Kebenaran tetap memerlukan
pemeriksaan, konteks, dan keputusan manusia yang dapat dipertanggungjawabkan. Di
tengah perubahan teknologi, tugas ruang redaksi bukan hanya menghasilkan informasi
lebih cepat, melainkan memastikan bahwa setiap informasi yang diterbitkan tetap layak
dipercaya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *